welcome to my blog

welcome to my blog

Minggu, 24 November 2013

Pengembangan Kebiasaan Positif (Kerja sama) & Risolusi konflik

MAKALAH
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II

Pengembangan Kebiasaan Positif ( Kerja Sama) & Resolusi Konflik



Disusun Oleh :
Kelompok 3
         1.      Sy. Nabila Noor A.   1205125007 (A)
         2.      Vanessa Iven H.        1205125011 (A)
          3.      Lily Ananda              1205125022 (A)
          4.      Fitri Rohmawati        1205125045 (B)
Kelas : A & B Pagi
Dosen
Rury Muslifar, S.Pd, M.Pd

PROGRAM STUDI S1-PAUD
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2013
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.

Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas karunianya dan Hidayah-Nya makalah  “Psikologi Perkembangan II (Pengembangan Kebiasaan Positif (Kerja sama) & Resolusi Konflik” ini dapat kami selesaikan.
Didalam proses persiapan, observasi, dan pembuatan makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak yang secara langsung maupun tidak langsung turut menunjang penyelesaian makalah ini.
 Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu segala saran dan keritik yang membangun sangat kami harapkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi yang memerlukan dan dapat ditindak-lanjuti oleh pihak-pihak terkait.
Wassalamualaikum Wr.Wb.

Samarinda, 25 September 2013

                                                                                             
                                                                                       Tim Penyusun



DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL...................................................................................       i
KATA PENGANTAR  ..............................................................................       ii
DAFTAR ISI ...............................................................................................       iii
BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................       1
       I.            Latar Belakang ..................................................................................       1
    II.            Rumusan Masalah .............................................................................       2
 III.            Tujuan penulisan................................................................................       2
BAB II KAJIAN TEORI ...........................................................................       3
       I.            Teori Tentang Kerjasama...................................................................       3
    II.            Teori Tentang Resolusi Konflik ........................................................       4
BAB III PEMBAHASAN...........................................................................       7
       I.            Kerjasama..........................................................................................       7
A.    Pengertian Kerja Sama................................................................       7
B.     Aplikasi Pembiasaan Kerja Sama................................................       7
C.     Langkah-langkah Pembentukan Prilaku.....................................       10
D.    Teknik Pembentukan prilaku......................................................       11
    II.            Resolusi Konflik................................................................................       15 
A.    PengertianResolusi Konflik........................................................       15
B.     Aplikasi Di lembaga Paud..........................................................       16
C.     Teknik Pembentukan Prilaku......................................................       18
BAB IV PENUTUP.....................................................................................       19
I.         Kesimpulan........................................................................................       19
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................       20





BAB I
PENDAHULUAN

       I.            Latar Belakang
Kemampuan menerima dan menghargai perbedaan perlu semenjak dini ditanamkan pada diri setiap orang. Demikian pula, pada seorang anak, perlu dibekali social life skill, seperti belajar untuk menerima dan belajar untuk menghadapi perbedaan. seorang anak juga akan belajar menyikapi rasa suka atau tidak suka, setuju atau tidak, cocok atau tidak. Social life skillpada anak seperti itu dapat dimulai dari kurikulum di lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD).
Di lembaga pendidikan anak usia dini, anak-anak sudah diajarkan dasar-dasar cara belajar. Tentunya di usia dini, mereka akan belajar pondasi-pondasinya. Mereka diajarkan dengan cara yang mereka ketahui, yakni lewat bermain. Tetapi bukan sekadar bermain, tetapi bermain yang diarahkan. Lewat bermain yang diarahkan, mereka bisa belajar banyak; cara bersosialisasi, berkerjasama, problem solving, negosiasi, manajemen waktu, resolusi konflik, berada dalam grup besar/kecil, kewajiban sosial, serta 1-3 bahasa. Pada makalah ini, kami akan membahas tentang Kerja sama dan REsolusi Konflik untuk anak usia dini

   II.            Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian dari Kerjasama dan Resolusi Konflik?
2.    Bagaimana bentuk kerjasama dan resolusi konflik di PAUD?
3.    Bagaimana teknin pembentukan perilaku berkerjasama dan resolusi konflik di PAUD?


III.            Tujuan Penulisan
Dengan penulisan makalah ini, diharapkan kita sebagai calon pendidik anak usia dini dapat memberikan kepada anak apa itu kerjasama dan resolusi konflik dan bagaimana cara berkerja sama dan menyelesaikan konflik dengan benar dan tepat sehingga dapat membantu perkembangan anak terutama dalam hal bersosialisasi dengan teman sebayanya.
BAB II
KAJIAN TEORI

       I.            Teori Kerja Sama
A.    Hafsah
Menurut Hafsah sering juga disebut dengan istilah kemitraan, yang berarti suatu strategi kegiatan yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan (Hafsah, 2008).
B.     Zainudin
Menurut Zainudin dalam website www.etd.library.ums.ac.id kerjasama merupakan kepedulian satu orang atau satu pihak dengan orang atau pihak lain yang tercermin dalam suatu kegiatan yang menguntungkan semua pihak dengan prinsip saling percaya, menghargai dan adanya norma yang mengatur, makna kerjasama dalam hal ini adalah kerjasama dalam konteks organisasi, yaitu kerja antar anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi (seluruh anggota).
C.     Thomson dan Perry
Menurut Thomson dan Perry dalam Keban (2007:28), Kerjasama memiliki derajat yang berbeda, mulai dari koordinasi dan kooperasi (cooperation) sampai pada derajat yang lebih tinggi yaitu collaboration. “Para ahli pada dasarnya menyetujui bahwa perbedaan terletak pada kedalaman interaksi, integrasi, komitmen dan kompleksitas dimana cooperation terletak pada tingkatan yang paling rendah. Sedangkan collaboration pada tingkatan yang paling tinggi”.



D.    Kusnadi
Kusnadi mengartikan kerja sama sebagai dua orang atau lebih untuk melakukan aktivitas bersama yang dilakukan secara terpadu yang diarahkan kepada suatu target atau tujuan tertentu.
E.     Schiller
Menurut Schiller dan Bryant kerjasama adalah menggabungkan tenaga sendiri dengan tenaga orang lain untuk bekerja untuk mencapai tujuan umum.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kerjasama adalah aktivitas dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama dalam jangka waktu tertentu. Dalam pendidikan anak usia dini, kerjasama dapat diartikan sebagai usaha bersama dalam menyelesaikan tugas yang telah ditetapkan antara anak dengan anak ataupun antara anak dengan orang dewasa.
   II.            Teori Resulosi Konflik
Istilah ‘resolusi’ berasal dari kata dasar ‘resolve’ yang artinya menyelesaikan atau memecahkan masalah (kamus inggris-indonesia, lomgman dictionary). Dengan kata lain resolusi konflik dapat diartikan sebagai salah satu keterampilan sosial yang memperolehnya didapat setelah perbuatan menyelesaikan konflik secara berulang-ulang (berkali-kali menyelesaikan konflik, sehingga diperoleh keterampilan resolusi konflik).
Kebanyakan anak menyelesaikan konflik mereka dengan menggunakan salah satu cara dari antara dua cara, yaitu mengundurkan diri dari situasi tersebut atau menggunakan kekuatan fisik. Peran guru ialah membantu anak-anak menghargai adanya beberapa alternatif cara untuk bisa menyelesaikan perselisihan/percekcokan. Beberapa penelitian menunjukan konflik akan lebih berhasil di dalam menyelesaikam konflik.
Pada usia anak-anak, sangat sulit bagi mereka untuk menerima jika salah satu anak menang dan yang lainnya harus kalah. Oleh karena itu penyelesaian konflik kadang membutuhkan saling penyesuaian sehingga tidak ada orang yang menang maupun kalah.
Deutsch dan Raider (Jones dan Kmitta, 2000:viii) menyatakan bahwa, “children who engage in destructive conflict strategies, particularly the use of violence, often have deficiencies in social problem-solving and interpersonal skills”.
Menurut Johan Galtung ada tiga tahap dalam penyelesaian konflik yaitu:
1.      Peacekeeping
Adalah proses menghentikan atau mengurangi aksi kekerasan melalui intervensi militer yang menjalankan peran sebagai penjaga perdamaian yang netral.
Dalam hal ini AS dan NATO melakukan intervensi militer dalam usahanya untuk menghentikan konflik yang terjadi di Kosovo. Karena kepemimpinan AS yang efektif di NATO, maka AS mengizinkan NATO untuk melakukan serangan ke Serbia dan memaksanya keluar dari Kosovo. Kemudian AS menerapkan resolusi DK PBB Nomor 1244 Tahun 1999 yang menempatkan Kosovo di bawah mandat PBB.
2.      Peacemaking
Adalah proses yang tujuannya mempertemukan atau merekonsiliasi sikap politik dan stategi dari pihak yang bertikai melalui mediasi, negosiasi, arbitrasi terutama pada level elit atau pimpinan.
Dikaitkan dengan kasus ini pihak – pihak yang bersengketa dipertemukan guna mendapat penyelesaian dengan cara damai. Hal ini dilakukan dengan menghadirkan pihak ketiga sebagai penegah, akan tetapi pihak ketiga tersebut tidak mempunyai hak untuk menentukan keputusan yang diambil. Pihak ketiga tersebut hanya menengahi apabila terjadi suasana yang memanas antara pihak bertikai yang sedang berunding.
3.       Peacebuilding
Adalah proses implementasi perubahan atau rekonstruksi social, politik, dan ekonomi demi terciptanya perdamaian yang langgeng. Melalui proses peacebuilding diharapkan negative peace (atau the absence of violence) berubah menjadi positive peace dimana masyarakat merasakan adanya keadilan social, kesejahteraan ekonomi dan keterwakilan politik yang efektif.
Program pendidikan resolusi konflik merupakan suatu program alternatif yang dapat mendidik para siswa untuk memiliki ketrampilan membangun hubungan sosial yang baik. Jones dan Campton (Jones, 2004: 233) menyatakan bahwa Pendidikan Resolusi Konflik “provides critical life skills necessary for building caring communities and establishing constructive relationships.” Dengan pendidikan resolusi konflik diharapkan para siswa dapat memahami konflik dengan lebih baik, mampu mengendalikan emosi, dan mempunyai keterampilan untuk memecahkan konflik secara konstruktif. Bodine dan Crawford memberikan pendapat yang lebih lengkap tentang pendidikan resolusi konflik. Mereka menyatakan menyatakan bahwa:
”Conflict resolution education has proven to be one of the key components of school strategies that not only assist young people in finding alternatives to violence but also support them in developing the social competencies of cooperation, empathy, creative problem solving, social cognitive skills, and relationship skills” (Bodine dan Crawford, 1998:xv).
BAB III
PEMBAHASAN

I.         Kerja Sama
A.    Pengertian Kerja Sama
Kerjasama adalah aktivitas dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama dalam jangka waktu tertentu. Dalam pendidikan anak usia dini, kerjasama dapat diartikan sebagai usaha bersama dalam menyelesaikan tugas yang telah ditetapkan antara anak dengan anak ataupun antara anak dengan orang dewasa.
B.     Aplikasi Pembiasaan Kerja Sama
Menerapkan pembiasaan kerja sama pada Anak usia dini bisa dilakukan dengan kegiatan bermain didalam kelas maupun diluar kelas. Hal ini karena, konsep belajar anak usia dini adalah bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain.
Kegiatan di luar kelas yang bisa menerapkan dan menanamkan pembiasaan kerjasama pada anak adalah kegiatan outbound. Berbagai kegiatan outbound yang dapat digunakan untuk menanamkan kerjasama pada anak sedikit berbeda dengan jenis kegiatan outbound yang biasa diterapkan untuk orang dewasa. Namun tidak semua kegiatan outbound yang dilaksanakan di TK dapat digunakan untuk menanamkan kerjasama ini, karena sebagian untuk pengembangan aspek yang lain. Kegiatan-kegiatan yang dapat digunakan untuk menanamkan kerjasama antara lain :
1.      High Impact
a.       Kereta Balon
Permainan ini membutuhkan alat berupa balon yang diisi air. Permainan ini dimainkan dalam team yang anggotanya merupakan anggota kelompok (kelas) di TK yang melaksanakan kegiatan outbound. Anggota team berbaris dengan posisi tangan di belakang badan, sementara balon diapit oleh dada hingga perut anak yang di belakang dengan punggung anak yang ada di barisan depannya. Satu tema beranggotakan 4 – 5 anak yang harus menjaga agar tidak ada balon yang terjatuh di dalam teamnya. Agar balon tidak jatuh, maka harus ada koordinasi dan kerjasama antar kelompok. Kecepatan anak yang berada di baris depan harus memperhatikan kecepatan anak di belakangnya dan seterusnya. Team pemenang adalah team yang sampai finish terlebih dahulu.
b.      Moving Water
Untuk melakukan kegiatan ini alat yang dibutuhkan adalah gelas plastik sejumlah anak dan ember berisi air. Kegiatan dilakukan dengan cara memindahkan air dalam ember ke ember lainnya dengan cara estafet dari satu gelas plastik ke gelas yang lain. Antar anggota kelompak harus menjaga kekompakkan agar air dalam gelas yang dipegangnya dapat dioper tanpa menumpahkan isinya. Kelompok yang embernya terisi air penuh terlebih dahulu keluar sebagai pemenang.
c.       Halang rintang dan hiking
Kedua kegiatan ini hampir sama pelaksanaannya maupun alat yang dibutuhkan. Inti kegiatan anak berjalan di berbagai kondisi jalan dan melewati beberapa rintangan. Anak berjalan dalam kelompok yang dituntut masing-masing anggotanya untuk saling membantu ketika melewati rintangan ada di perjalanan.
d.      Estafet Bendera
Alat yang dibutuhkan untuk kegiatan estafet bendera adalah ember besar, ember kecil, dan bendera berukuran kecil. Anak dibagi dalam beberapa team yang masing-masing team harus memindahkan bendera dari ember besar di tengah ke ember kecil di kelompok masing. Masing-masing anggota kelompok berusaha memindahkan tongkat sambil menghindari agar tidak menabrak anggota kelompok lainnya yang berlari berlawanan arah dengannya.
2.      High Impact
a.       Flying Fox
Flying Fox Adalah kegiatan menyeberangi wilayah atau danau luas dengan cara meluncur di seutas tali wire menuju tempat pendaratan dengan pengaman (harnes). Pada anak TK, peluncuran dilakukan berpasangan dimana masing-masing pasangan diharapkan saling menguatkan agar tidak takut dan dapat menjaga keseimbangan hingga sampai di tempat pendaratan.
b.      Burma Bridge
Membutuhkan tali wire sebagai dan tambang sebagai tempat berpegangan. Anak berjalan di seutas tali setelah diikat dengan pengaman (harnes). Tambang pegangan dipasang sejajar dengan wire setinggi dada anak. Ketika berjalan di atas tali anak berjalan dengan cara menyamping. Sekali meniti dilakukan 2 – 3 anak sekaligus yang masing-masing mengingatkan untuk menjaga keseimbangan dan saling membantu agar tidak terpeleset pada tali.
c.       Two-line Bridge
Hampir sama dengan burma bridge tapi pada two-line bridge tambang pegangan dibuat dua di sisi kanan dan kiri anak setinggi dada anak. Anak melintasi tali dengan cara berpegangan tangan kanan dan kiri serta berjalan maju bukan menyamping seperti pada burma bridge. Untuk tugas kerjasama, seperti halnya pada kegiatan burma bridge, kegiatan ini juga menuntut kegiatan saling membantu dan menjaga keseimbangan.
Kegiatan di luar kelas yang bisa menerapkan dan menanamkan pembiasaan kerjasama pada anak adalah kegiatan bermain yang sering dilakukan anak saat proses belajar. Misalnya bermain balok secara berkelompok, saling bekerja sama menyusun buku atau bekerjasama menghias pohon mainan.
C.    Langkah-Langkah Pembentukan Perilaku
1.      Mengenalkan Permainan yang Bersifat Kerjasama
Bentuk permainan-permainan yang bersifat  kerjasama adalah permainan yang sifatnya berkelompok dan harus dilaksanakan secara koordinasi antara anak untuk dapat menyelesaikan permainan tersebut. Contohnya adalah bermain balok didalam ruangan yang dilakukan secara berkelompok.
2.      Mengenalkan Nilai Kasih Sayang
Prasyarat untuk menumbuhkan rasa kasih sayang  kepada anak adalah dengan memberikan cinta dan kasih sayang sebesar-bearnya kepada anak sejak kecil.  Selain cinta dan  rasa aman, orang tua dan guru perlu mengajarkan anak untuk menempatkan dirinya pada orang lain. Berikut kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengealkan nilai kasih saying kepada anak :
a)      Mengajak anak untuk senantiasa menghormati dan menghargai seluruh ciptaan tuhan
b)      Menanamkan sifat saling menyayangi sesama mahkluk hidup, seperti menolong orang yang jatuh, tidak menginjak serangga di tanah, tidak memetik bunga sembarangan dll
c)      Ajak anak untuk mengumpulkan berbagai barang untuk disumbangkan ke badan amal
d)     Memberi kesempatan pada anak untuk bermain dengan anak-anak lain, agar  menyadari bahwa dilingkungannya ada orang lain yang mempunyai pemikiran, perasaan dan permasalahan yang bermacam-macam kadang sama atau berbeda dengan dirinya, sehingga anak belajar untuk tidak memaksakan kehendak pada orang lain
e)      Mengajarkan anak untuk saling menyayangi tanpa memandang perbedaan, misalnya anak mau berteman dengan orang yang berasal dari etnis atau agama yang berbeda.
f)       Hargai dan berilah dorongan ketika anak memperlihatkan sikap kepedulian dan kasih sayang
3.      Mengenalkan Sikap Gotong-royong
Mengenalkan sikap gotong-royong dengan mengajak anak-anak untuk membersihkan lingkungan sekolah bersama-sama. Dengan dibimbing oleh guru anak diajarkan unutk saling membantu membersihkan dan merapikan lingkungan sekolah.
4.      Mengajarkan Anak Untuk Berbagi.
Ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk menunjukkan anak bagaimana caranya saling berbagi sesame teman sebaya.
a)      Mengajak anak untuk membagi makanan yang ia miliki kepada teman yang tidak membawa makanan.
b)      Meminjamkan crayon kepada teman yang tidak memiliki cryon dan mewarnai bersama.
c)      Bercerita dengan menggunakan boneka tangan dengan tema cerita saling berbagi.
5.      Mendorong Anak Untuk Membantu Orang Lain.

6.      Mengajarkan Kesungguhan Hati dalam Membantu Orang Lain.

D.    Teknik Pembentukan Perilaku
1.      Pendidik memberi pengertian tentang pentingnya kerja sama dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari kepada anak contoh permainan. Misalnya permainan kucing dan tikus, dimana dalam permainan ini ada yang berperan sebagai tikus, kucing, dan pagar. Apabila yang berperan sebagai pagar lalai, maka kucing akan dapat dengan mudah mengangkap tikus.
2.      Mengajak anak untuk bercerita. Pada umumnya kegiatan ini sangta disenangi anak-anak. Lewat tokoh-tokoh yang ada dalam cerita tersebut anak akan memperoleh pengalaman yang dapat mempengaruhi perkembangan sosialnya.
3.      Mengajak anak bermain drana sederhana dan memerankan orang yang suka menolong (misalnya jururawat, dokter, ibu, ayah, kakek, nenek). Melalui permainan ini rasa empati pada anak dapat dikembangkan.
4.      Melaksanakan berbagai kegiatan yang mendorong anak untuk bekerja sama misalnya tugas kelompok dalam berkebun, tugas kelompok dalam giliran merapikan alat permainan dan menyiapkan makan bersama dikelas.
Michael Maginn (2004), mengemukakan cara menumbuhkan semangat kerjasama di lingkungan sekolah sebagai berikut :
1.      Tentukan tujuan bersama dengan jelas. Sebuah tim bagaikan sebuah kapal yang berlayar di lautan luas. Jika tim tidak memiliki tujuan atau arah yang jelas, tim tidak akan menghasilkan apa-apa.  Tujuan memerupakan pernyataan apa yang harus diraih oleh tim, dan memberikan daya memotivasi setiap anggota untuk bekerja. Contohnya, sekolah yang telah merumuskan visi dan misi sekolah hendaknya menjadi tujuan bersama. Selain mengetahui tujuan bersama, masing-masing bagi- an seharusnya mengetahui tugas dan tanggungjawabnya untuk mencapai tujuan bersama tersebut.
2.      Perjelas keahlian dan tanggung jawab anggota. Setiap anggota tim harus menjadi pemain di dalam tim. Masing-masing bertanggung jawab terha- dap suatu bidang atau jenis pekerjaan/tugas. Di lingkungan sekolah, para guru selain melaksanakan proses pembelajaran biasanya diberikan tugas-tugas tambahan, seperti menjadi wali kelas, mengelola laboratorium, koperasi, dan lain-lain. Agar terbentuk kerja sama yang baik, maka pemberian tugas tambahan tersebut harus didasarkan pada keahlian mereka masing-masing.
3.      Sediakan waktu untuk menentukan cara bekerjasama. Meskipun setiap orang telah menyadari bahwa tujuan hanya bisa dicapai melalui kerja sama, namun bagaimana kerja sama itu harus dilakukan perlu adanya pedoman. Pedoman tersebut sebaiknya merupakan kesepakatan semua pihak yang terlibat. Pedoman dapat dituangkan secara tertulis atau sekedar sebagai konvensi.
4.      Hindari masalah yang bisa diprediksi. Artinya mengantisipasi masalah yang bisa terjadi.  Seorang pemimpin yang baik harus dapatmengarahkan anak buahnya untuk mengantisipasi masalah yang akan muncul, bukan sekedar menyelesaikan masalah. Dengan mengantisipasi, apa lagi kalau dapat mengenali sumber-sumber masalah, maka organisasi tidak akan disibukkan kemunculan masalah yang silih berganti harus ditangani.
5.      Gunakan konstitusi atau aturan tim yang telah disepakati bersama. Peraturan tim akan banyak membantu mengendalikan tim dalam menyelesaikan pekerjaannya dan menyediakan petunjuk ketika ada hal yang salah. Selain itu perlu juga  ada konsensus tim dalam mengerjakan satu pekerjaan.
6.      Ajarkan rekan baru satu tim agar anggota baru mengetahui bagaimana tim beroperasi dan bagaimana perilaku antaranggota tim berinteraksi. Yang dibutuhkan anggota tim adalah gambaran jelas tentang cara kerja, norma, dan nilai-nilai tim. Di lingkungan sekolah ada guru baru atau guru pindahan dari sekolah lain, sebagai anggota baru yang baru perlu ”diajari” bagaimana bekerja di lingkungan tim kerja di sekolah. Suatu sekolah terkadang sudah memiliki budaya saling pengertian, tanpa ada perintah setiap guru mengambil inisiatif untuk menegur siswa jika tidak disiplin. Cara kerja ini mungkin belum diketahui oleh guru baru sehingga perlu disampaikan agar tim sekolah tetap solid dan kehadiran guru baru tidak merusak sistem.
7.      Selalulah bekerjasama, caranya dengan membuka pintu gagasan orang lain. Tim  seharusnya menciptakan lingkunganyang terbuka dengan gagasan  setiap anggota. Misalnya sekolah sedang menghadapi masalah keamanan dan ketertiban, sebaiknya dibicarakan secara bersama-sama sehingga kerjasama tim dapat berfungsi dengan baik.
8.      Wujudkan gagasan menjadi kenyataan. Caranya dengan menggali atau memacu kreativitas tim dan mewujudkan menjadi suatu kenyataan. Di sekolah banyak sekali gagasan yang kreatif, karena itu usahakan untuk diwujudkan agar tim bersemangat untuk meraih tujuan. Dalam menggali gagasan perlu mencari kesamaan pandangan.
9.      Aturlah perbedaan secara aktif. Perbedaan pandangan atau bahkan konflik adalah hal yang biasa terjadi di sebuah lembaga atau organisasi. Organisasi yang baik dapat memanfaatkan perbedaan dan mengarahkannya sebagai  kekuatan untuk memecahkan masalah. Cara yang paling baik adalah mengadaptasi perbedaan menjadi bagian konsensus yang produktif.
10.  Perangi virus konflik, dan jangan sekali-kali ”memproduksi” konflik. Di sekolah terkadang ada saja sumber konflik misalnya pembagian tugas yang tidak merata ada yang terlalu berat tetapi ada juga yang sangat ringan. Ini sumber konflik dan perlu dicegah agar tidak meruncing. Konflik dapat melumpuhkan tim kerja jika tidak segera ditangani.
11.  Saling percaya. Jika kepercayaan antaranggota hilang, sulit bagi tim untuk bekerja bersama. Apalagi terjadi, anggota tim cenderung menjaga jarak, tidak siap berbagi informasi,  tidak terbuka dan saling curiga.. Situasi ini tidak baik bagi tim. Sumber saling ketidakpercayaan di sekolah biasanya  berawal dari  kebijakan yang tidak transparan atau konsensus yang dilanggar oleh pihak-pihak tertentu dan kepala sekolah tidak bertindak apapun. Membiarkan situasi yang saling tidak percaya antar-anggota tim dapat memicu konflik.
12.  Saling memberi penghargaan. Faktor nomor satu yang memotivasi karyawan adalah perasaan bahwa mereka telah berkontribusi terhadap pekerjaan danm prestasi organisasi. Setelah sebuah pekerjaan besar selesai atau ketika pekerjaan yang sulit membuat tim lelah, kumpulkan anggota tim untuk merayakannya. Di sekolah dapat dilakukan sesering mungkin setiap akhir kegiatan besar seperti akhir semester, akhir ujian nasional, dan lain-lain.
13.  Evaluasilah tim secara teratur. Tim yang efektif akan menyediakan waktu untuk melihat proses dan hasil kerja tim. Setiap anggota diminta untuk berpendapat tentang kinerja tim, evaluasi kembali tujuan tim, dan konstitusi tim.
14.  Jangan menyerah. Terkadang tim menghadapi tugas yang sangat sulit dengan kemungkinan untuk berhasil sangat kecil. Tim bisa menyerah dan mengizinkan kekalahan ketika semua jalan kreativitas dan sumberdaya yang ada telah dipakai. Untuk meningkatkan semangat anggotanya antara lain dengan cara memperjelas mengapa tujuan tertentu menjadi penting dan begitu vital untuk dicapai. Tujuan merupakan sumber energi tim. Setelah itu bangkitkan kreativitas tim yaitu dengan cara menggunakan kerangka fikir dan pendekatan baru terhadap masalah.

II.      Resolusi Konflik
Kita saat ini masih kadang melihat terjadinya konflik di kalangan pelajar sekolah menengah dan mahasiswa di Indonesia. Perkelahian fisik secara massal atau tawuran antarpelajar dan tawuran antarmahasiswa merupakan masalah yang paling pelik bagi dunia pendidikan di Indonesia. Konflik yang terjadi di kalangan pelajar di sekolah dapat menjadi pertanda bahwa mereka kurang mampu memiliki keterampilan interpersonal yang baik. Sebenarnya konflik merupakan suatu yang alamiah, tetapi sikap dan cara menangani konflik secara destruktif seringkali menyebabkan konflik menjadi sangat merugikan. Dalam masyarakat atau lembaga yang otoriter, pemecahan konflik sering dicapai dengan menggunakan kekuasaan atau strategi kekerasan untuk menyelesaikan konflik antarpihak-pihak yang berkonflik.
A.    Pengertian Resolusi Konfilk
Resolusi konflik adalah suatu proses analisis dan penyelesaian masalah yang mempertimbangkan kebutuhan – kebutuhan individu dan kelompok seperti identitas dan pengakuan juga perubahan – perubahan institusi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan
Pendidikan resolusi konflik didasari oleh beberapa asumsi dasar, yaitu: 1) persepsi yang positif terhadap konflik, 2) penghargaan terhadap perbedaan, 3) dikembangkan dalam konteks kerjasama, dan 4) menjadikan problem solving sebagai inti kegiatan. Program pendidikan resolusi konflik didasarkan pada persepsi yang positif tentang konflik. Konflik adalah alami dan normal; dan merupakan bagian dari hidup. Dengan persepsi yang positif terhadap konflik ini berarti bahwa konflik bukan suatu daerah tertutup (closed area) atau hal yang tabu untuk dibicarakan.

B.     Aplikasi Di Lembaga Paud
Beberapa contoh pembiasaan perilaku resolusi konflik yang perlu distimulasi (rangsang) oleh pendidik dalam pembelajaran sehari-hari ialah sebagai berikut:
1.      Pendidik mendorong anak yang berbuat salah untuk mengucapkan maaf
2.      Pendidik mendorong anak menerima kritik
3.      Pendidik menanamkan nilai kesabaran
4.      Pendidik menanamkan nilai persatuan
5.      Pendidik menanamkan perasaan saling membutuhkan
6.      Pendidik menuntun anak agar merasakan dirinya berharga dengan apa yang ia lakukan/miliki
7.      Pendidik mendorong anak menghargai apa yang dilakukan dan dimiliki orang lain
8.      Pendidik mengajarkan anak untuk bertoleransi/bertenggang rasa
                                                                             
C.    Teknik Pembentukan Perilaku
Salah satu strategi problem solving yang menonjolkan peran ‘berpikir’ untuk menyelesaikan masalah (dalam hal ini masalah sosial-emosional) dapat diterpkan untuk pembentukan keterampilan resolusi konflik.
Langkah-langkah problem solving untuk resolusi konflik:
1.      Pembatasan dan perumusan masalah yang dihadapi
a.       Guru membantu anak memahami bahwa masalah/problem itu benar-benar  “ada”.
b.      Guru membantu anak mengenali problemnya dengan cara menemukan dan mengumpulkan semua situasi masalah yang dihadapi anak.
c.       Guru berbicara dengan anak untuk membantunya memahami:
1)      Sifat problem,
2)      Lingkungan yang berkaitan, dan
3)      Faktor-faktor emosi yang ada
2.      Menentukan beberapa alternatif
a.       Anak dibantu memberikan  macam-macam alternatif serta kemungkinan akibatnya terhadap solusi-solusinya. Misal:
-          Ganti mendorong anak lain keluar dari barisan
-          Mengadukan keguru
-          Membiarkan anak lain berdiri paling depan, asalkan lain kali bergantian yang berdiri paling depan.
b.      Alternatif-alternatif  ini bisa juga disajikan secara visual lebih dahulu, dan anak diajak menganalisis masing-masing akibat dari alternatif yang dipertunjukan.
3.      Menentukan solusi
a.       Langkah pengambilan keputusan ini dilakukan dengan menuntun anak mengambil alternatif dengan akibat yang bisa diterima secara sosial.
b.      Setelah solusi yang ‘diinginkan’ sudag ditentukan, anak didorong untuk menerapkannya.
c.       Perilaku demikian dapat diulang-ulang melalui bermain peran.
4.      Evaluasi
a.       Guru dan anak membicarakan bersama apakah cara yang diterapkan sudah memperbaiki perilaku anak.
b.      Apabila belum, anak perlu dibimbing dengan cara lain untuk menghadapi permasalahannya.
BAB IV
PENUTUP

I.         Kesimpulan
Kerjasama adalah aktivitas dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama dalam jangka waktu tertentu. Dalam pendidikan anak usia dini, kerjasama dapat diartikan sebagai usaha bersama dalam menyelesaikan tugas yang telah ditetapkan antara anak dengan anak ataupun antara anak dengan orang dewasa.
Resolusi konflik adalah suatu proses analisis dan penyelesaian masalah yang mempertimbangkan kebutuhan – kebutuhan individu dan kelompok seperti identitas dan pengakuan juga perubahan – perubahan institusi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan.





DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar